Kamis, 04 Juli 2013

“SAYANG ISTRI SAYANG SUAMI”



Pendahuluan
Lima tahun Pahijo melalang Jabodetabek sejak lulus STM, namun keberuntungan cuma hinggap sebentar. Dari  drafter sampai lalu technical sales representtative ia lalui dgn gemilang yg membawa dirinya ke pabrik kimia  di pelosok Tangerang. Cekatan, trampil dan jujur (lugu ?) menyebabkan pemiliknya tertarik mengangkatnya jadi kepala pabrik. Dua tahun kemudian ia beli rumah BTN dan memboyong bunga dari desanya untuk disajadikan permaisurinya. Mereka hidup bahagia. Sementara.
Setahun kemudian bosnya diperkarakan pihak yang mengklaim sbg pemilik formula yang dipakai untuk memproduksi produk kimia. Pahijo sebagai pelaksana dinyatakan terlibat. Perundingan sumir dgn pihak berwenang terkait  menghasilkan kesepakatan penyediaan dana 36 juta . Pahijo jual rumah BTNnya yg baru setahun lebih ia beli. Ditambah tabungannya, ia bisa menyedaiakan dana itu. Pahijo tetap disidang dan dikenai sanksi 4 bulan penjara tapi dapat keringanan sehingga dikenai tahanan rumah.Saban bulan ia lapor ke pengadilan.

Permasalahan
Dengan sisa uang 5 juta ia ngontrak di rumah petak di Jakarta. Ia beli motor bodong alias tanpa surat-surat seharga 600 ribu, dan ngojek. Tiga bulan kemudian ia kena razia, motornya disita. Ia coba jajakan beberapa mata dagangan dengan jalan kaki. Jarum jam tak   tp belum beruntung, sementara uangnya menipis padahal kontrakan tinggal seminggu lagi. Tak mungkin ia menunggak lagi karena sudah 3 bulan tidak bayar.
Pahijo merenungi nasibnya. Bersama sang permaisuri,  Pahijo berembung cari solusi. Sang istri juga bingung. Ia tak punya wacana sama sekali. Pernah ia coba melamar ke resto ayam panggang bumbu rujak ang selalu ramai. Gagal karena, kata orang dalam relasi suaminya, jeblok soal angka. Jangankan menjumlah tagihan pembayaran, menjumlah pesanan satu meja saja masih keliru. Perempaun sintal berparas ayu sensual ini menyadari suaminya sayang banget kepada dirinya. Ia pontang-panting cari sesuap nasi ibaratnya,  sampai lupa pada “kebiasaann nakalnya” . Dulu ketika masih “jaya” suaminya minta jatah susu tiap dua hari bahkan tak jarang pernah saban hari nyusu. Dengan senang hati sang istri menyediakannya  dengan baik. Pernah sekali tempo ia mengingatkan kapan merencanakan anak. Jawab sauaminya santai. Jangan dulu. Aku belum mau berbagi susu dengan anakku.
Dan sekarang ia terharu. Suaminya sampai lupa pada “kenakalannya” dulu gara-gara sibuk cari uang, sementara kebiasaan  memperlakukan dirinya bak ratu maih berlangsung. Ia tak boleh capai. Cuci baju sampai setrika dikerjakan suaminya. Bersih2 semua diekrjakan suami. Masak yg rumit tak boleh, kecuali masak mie instant. Ia termangu memikirkan bagaimana membantu suaminya cari uang.
Kalo aku ngamen gimana mas?
Emang kamu bisa nyanyi ?
Asal goyang saja sudah laku mas, ga perlu buka suara. Yang penting ada suara gendang .
Butuh pemutar CD, accu, mik dan salon, modalnya ga cukup 100 ribu.
Buntu lagi.  Cukup lama mereka  kembali  terdiam.
Si Ella itu kerja di karaokean, katanya  juga modal goyang melulu.
Bukan karaokean saja, ia penari striptis.
Apa itu ?
Menari  bugil.
Telanjang? Semuanya ? Dilihat banyak orang gitu anunya ? nari apaan sih mas kok musti telanjang?
Bukan tariannya tapi telanjangnya yang penting. Mau ?
Istrinya cekikikan. Pasti yang nonton belum punya istri, kemaruk.
Yang punya istri masih suka nonton juga.
Ha ? Ngapain ? kan di rumah udah ada, tinggal mau nonton berapa kali.
Orang jajan ke warung bukan karena di rumah tidak disediain masakan.
Mas suka jajan juga to ....
Hadew, kadang jengkel juga Pahijo sama istri kalo pas lagi ga nyambung begini. Bukan sekali ini saja ga nyambung. Maka lebih baik ia alihka topik permbicaraan atau berhenti ngobrol.
Esok harinya begitu juga kala jelang mau tidur, mereka berdua merenung cari solusi. Demikain saban hari  sampai di hari saat harus membayar kontrakan. Bu haji sampai menagihnya secara halus tetapi mereka tetap merasa tak enak hati. Sebab bu haji dimata mereka seperti ibu sendiri layaknya. Kerap ajak ngobriol , juga tak jarang mengirim masakan.
Entah setan mana yang menghasut keduanya sehingga mereka  sepakat jalan pintas.
Mendadak keduanya buka suara bareng. “Aku punya ide !”
Mereka lalu diam saling memandang, dengan tatapan tajam menusuk. Seperti hendak menakar kedalaman hati masing-masing.  Tapi tak tak segera omong. Mungkin sadar, gagasan mereka tak layak untuk diutarakan.
Ide apa? tanya Pahijo.
Mas dulu.
Kamu dulu,Di.
Ga jadi ah, sahut istrinya, lalu diam mengunci mulutnya. Ia memutar tubuhnya untuk memelakngi suaminya. Segan ia menatap suaminya.
Pahijo maklum  dan tak mau memaksa. Pahijo menimbang perlu enggak mengutarakan. Tapi tak ada salahnya mencoba. Perkara tak setuju, kan lebih baik berterus terang. Pikir Pahijo. Dengan halus dan mesra ia membisiki istrinya. Andai  istrinya kaget lalntas menampar dirinya  Pahijo siap.
Istrinya memang tersentak, membalikkan tubuh dan menatap tak tak percaya pada suaminya. Tapi tidak marah, malah heran dan berekspresi seperti hendak tertawa.
Maafkan aku, Di. Jika kamu tak berkenan, lupakan gagasan sesat  itu. maafkan aku, ulang Pahijo menghiba.Istrinya memeluk suaminya. Jangan merasa bersalah begitu, Mas. Ga usah minta maaf, mas. Aku punya gagasan yang sama kok.
Meski keduanya punya pikiran sama namun sangat tidak mudah untuk memantapkan pelaksanaannya. Si istri masih ragu-ragu apakah ia mampu melaksanakannya, dan kalo sudah begitu Pahijo ternyuh. Ya sudah, lupakan gagasan itu. Jangan kamu lakukan. Aku coba jajakan barang lain.
Modal dari mana ?
Masih ada 70 ribu. Buat sarapan besok 10 ribu, buat tinggalin kamu 10 ribu. Sisanya buat kulakan.
Kulakan apa mas, dengan uang 50 ribu ?
Pahijo menunduk sedih, tak mampu menjawab.
Akhirnya sang istri memantapkan tekadnya. Ia mau melayani siapa saja asalkan ia pilih dulu orangnya. Terus terang ia ngeri kalo membayangkan harus melayani orang yang keringatnya bau, mulut nya bau.
Baik kalo begitu, pokoknya asalkan kamu tak tersiksa, suara Pahijo bergetar.
Tapi ada satu syarat, mas harus mendampingi !
Lho, bagaimana caranya, Di ?
Malam itu Pahijo dan istrinya nongkrong di sebuah taman remang-remang yang biasa dipakai untuk buang syahwat secara gelap. Praktek mesum ini mulai  jam sembilan ke atas.
Pahijo bersembunyi di belakang semak-semak berjarak 50 meter dari istrinya yang berdiri di pinggir jalan, pura-pura nunggu angkot yang lewat.
Satu dua laki-laki lewat dan menggoda istrinya tapi tidak digubris istrinya. Abang ojek menawarkan  jasa ojek  tapi istri Pahijo menggeleng kepala. Satu dua abang ojek mulai curiga.  Ia tidak hendak kemana-mana.  Maka salah seorang coba blak-blakan menawar. Tapi istri Pahijo menggeleng keras. Abang ojek mulai kurang ajar menggodanya. Istri Pahijo ketakutan. Ia tengak-tengok berharap suaminya segera muncul.
Betul juga. Pahijo muncul. Ada apa Di, seru Pahijo sengaja mengeraskan suaranya.
Abang ojek menatap Pahijo yang dibalas Pahijo menatapnya tajam. Meski wajah abang ojek termasuk sangar tetapi karena dia dalam posisi salah, yak ni menggoda perempuan yang tidak dikenalnya, ia keder juga. Ia mudur, menyingkir dari situ.
Pahijo mengajak istr inya menggeser posisi untuk menjauhi  abang-abang ojek. Kini ia ambil posisi tak jauh dari PSK lain. Dua PSK mencibir, Menunjukkan ketidaksukaannya punya saingan baru di sana. Tapi lantaran mereka melihat laki-laki yang mengawalnya berwajah dingin dengan sorot mata tajam bak mata harimau yabg siap menerkam siapa saja, mereka menjauh tanpa disuruh
Istri Pahijo tak bisa menanggapi sepatah katapun ketika Pahijo menegur. Mengapa kamu biarkan saja dua tiga orang tadi menghampirimu ? Kalo masih takut atau ragu-ragu, kita pulang saja.....
Karena istrinya diam saja dan tidak ada tanda-tanda mau diajak pulang, Pahijo tak mau mengganggunya lagi. Ia sengaja pindah persembunyiannya dengan pesan supaya iatrinya melanjutkan upayanya menarik pelanggan, kalo ada yg tidak beres ia segera  muncul.
Sebuah sedan bagus berhenti di depan istrinya. Si pengemudi menjulurkan kepalanya, Sepertinya merayu atau mungkin tepatnya hendak bertransaksi. Istri Pahijo tersenyum sambil menggeleng kepalanya. Semula Pahijo kecewa atas penolakan istrinya. Saking kesalnya ia hendak melangkah menjauh meninggalkan istrinya. Tapi dibatalkannya setelah meiirik dan mengetahui sopir turun dari sedannya, diikuti temannya yang keluar dari pintu sedan belakang. Lho berarapa orang ? apa-apaan ini ? pikir Pahijo. Buru-buru ia mengalihkan langkahnya untuk cepat menuju  posisi istrinya. Mengetahui ada laki-laki yang menjaga “buruannya” dua laki-laki iseng itu buru-buru cabut dari situ. Sedan itu pun melesat kabur.
Sudah jam sebelas dan belum ada pelanggan yang nyantol. Beberapa calon pelanggan keren – bermobil -- lolos begitu saja.  Pahijo akhirnya berjalan meninggalkan istrinya dengan perasaan kesal. Ia memilih berdiam di balik pohon di tengah taman. Meski agak jauh tapi ia masih bisa mengawasi istrinya. Sang istri tahu suaminya kesal tapa apa boleh buat. Entahlah tiap kali menilik calon pelanggannya suara batinnya berontak dan berteriak melarangnya. Tua muda.  Tapi memang masuk akal. Kalau anak muda matanya jelalatan. Tanda gila seks. Yang tua pun suka pringas-pringis. Pagi tadi ia ngobrol dengan tetangganya, para istri. Obrolan sengaja diarahkan istri Pahijo ke topik seks. Menurut celoteh canda nereka, laki-laki kalo udah mulai berumur makin cerewet, banyak maunya kayak anak kecil minta ini itu. Suka kecewa, suka marah.
Saat melamun begitu tiba-tiba mucul laki-laki yang ia kira suaminya. Karena perawakan, wajah dan dandanannya persis suaminya. Ia menyapa dengan tutur  kata yang sopan dan halus.  Dari kajauhan Pahijo mengetahuinya tapi melihat gelagatnya sih cowok biasa-biasa saja tingkahnya, ia abaikan. Ia memilih duduk membelakangi mereka.
Lagi nunggu ? Sapa laki-laki mirip bintang sinetron itu. Istri Pahijo mengangguk. Nungguu dijemput? Istri Pahijo mengangguk lagi.

Kalo bosan nunggu, aku antar ke tujuan mbak, ga apa-apa. Akau bawa taksi. Ya aku sopir taksi, taksi aku sengaja parkir agak masuk ke taman . Laki-laki mirip bintang sinetron itu mengeluarkan dua aqua gelas lalu menyodorkannya kepada istri Pahijo. Tapi istri Pahijo menolak seraya  mengucapkan terima kasih.
Keberatan enggak mbak, kalo aku ngobrol di sini,....nanti kalo ada yang jemput mbak, tinggalkan aku ga apa-apa ...Aku baru keluar jam 9, putar-putar melulu cuma dapat dua  penumpang. Lumayan sih dapet 100 ribu. Tapi dah malam begini, mau kemana lagi. Maklum ga biasa naksi .
Mbak boleh percaya ato tidak, tiga bulan lalu aku masih menejer pemasaran perusahaan eksportir peralatan rumah tangga, home industri.  Keset, sapu,  semuanya dari sabut kelapa. Gara2 bosku masuk partai, tergiur ikut pilkada, perusahaan bangkrut. Aku terlantar tanpa gaji selama  berbulan-bulan sampai aku pergi begitu saja tanpa pasangon. Istriku pergi dua bulan lalu karena aku tak mampu memberi nafkah. Setelah luntang-luntung baru minggu lalu aku coba sopir taksi malam hari.
Dengan mimik dan nada meyakinkan sopir taksi mengaku kesepian setelah ditinggal kabur istrinya.
Pengin sekali aku bisa kembali bersantai bersama istri untuk melepas lelah, melepas suntuk. Tapi cuma mimpi yg kudapat. Lama-lama jenuh juga hidup begini. Jadi manusia malam tapi penghasilan kecil. Kalo capai ga ada yg urus, mau curhat pada siapa .....
Eh, mbak mau enggak putar-putar sebentar cari warkop ? di sekitar Monas ada warkop. Asyik mbak menikmati suasana malam Jakarta yang syahdu. Ajakan ini menggugah minat istri Pahijo. Sejak dilantik jadi permaisuri, ia tak pernah diajaka jalan-jalan. Apalagi naik mobil. Apalagi ke Monas. Ia kenal Monas dari gambar atau foto di kartu atau koran tapi belum pernah melihat sendiri. Sinar mata istri Pahijo terbaca oleh sopir taksi itu.
Mbak ga perlu khawatir aku berniat buruk, di dashboard ada kartu identitas dan nomor telepon perusaan. Mbak bisa cek ke sana. Aku pinjami HP nih. Sopir taksi menyodorkan HP dan mengajaknya ke taksi untuk melihat identitas. Istri Pahijo sebetulnya terpancing tapi tak serta merta menuruti kemauan sopir taksi.
Sopir taksi tak menyerah begitu saja. Ia tetap ajak ngobrol dan kali ini mengutarakan masalah  pribadi dan ujung-ujungnya apalagi kalo bukan seks. Tanpa segan-segan ia berterus terang bahwa sejak di tinggal kabur istrinya praktis ia tak menyentuh wanita sama sekali. Hampir 4 bulan mbak ! uh kalo udah kram mbak, sakit dan capai menina bubukkan si burung ini....hadew.......
Merasa yakin hati wanita ini mulai luluh dan bersimpati dengan kisah-kisahnya mulailah ia coba bertransaksi. Ia coba menawar. Istri Pahijo tetap mematok tarip jasa standar, 200 ribu dan di sini. Tidak ditempat lain....
Sopir taksi tertawa masam dan berujar lebih lebai lagi dengan mengkasihani diri diri bahwa ia baru dapat 100 ribu. Kalo mau nunggu ga pa-pa, aku cari sewa dulu. Paling sejam aku kembali lagi tapi mohon tunggu ya...soalnya kayaknya aku merasa sudah cocok begitu. Aku dari tadi kan berada di seberang sana, mengamati mbak. Aku tau ada beberap cewe di sini tapi dari dulu aku tak butuh begituan tapi sebuah sentuhan dari hati yang terdalam.....sayangnya kantongku cekak. Cuma ada seratus dan aku paham uang segitu sangat tak ada artibya buat mbak....andai saja aku boleh utang sih, aku berterima kasih sekali.
Akhirnya luluh hati istri Pahijo. Ia bilang ke sopir taksi agar tunggu sebentar katena ia mau konsultasi.  Segera isri Pahijo menemui  suaminya dan membeberkan apa kata sopir.
Kasihan mas, abang itu. Mondar-mandiri sampai Monas tapi Cuma dapat 100 ribu. Cuma segitu dia piunya. Baaimana ? kasih aja? Kasihan mas.
Pahijo bingung sama istrinya. Kok malah ia bersimpati pada orang lain, bukannya mengasihani diri sendiri. Agar tidak mengecewakan istrinya, Pahijo bilang. Kalo mau 150 tapi manual, pakai tangan !
Istri Pahijo tertegun tapi segera berbalik untuk menyampaikannya kepada sopir taksi. Tak seberapa lama si istri muncul lagi, minta keringanan buat calon customernya.
Kasihan mas, dia bener-bener ga punya uang. Semua isi kantong ia keluarkan. Memang tak ada uang, Cuma seratus. Bagaimana mas ? kasih saja ya...kasihan dia, itung-itung buat penglaris....
Pahijo menatap istrinya. Bagaimana sih istriku ini, batinnya.
Karena Pahijo tidak mau mengecewakan istrinya ia menyetuji. Tapi Cuma 10 menit ya....lebih dari 10 menit aku parani. Istri Pahijo tersenyum lalu berbelaik dan berlari menuju taksi dimana sopir taksi menunggunya.
Pahijo menatap tak berkedip mengamati jalannya jarum jam arlojinya. Ia curiga jangan-jangan arlojinya ini rusak atao mulai swak. Masak lambat amat. Detak jarum jam arloji terasa lebih lamban daripada degub jantung Pahijo. Ia menyesal mengapa ia kasih waktu 10 menit. Terlalu lama. Mestinya 5 menit cukup. Hawa terasa gerah, jantungnya berdebar makin kencang. Nafasnya tersengal-sengal. Padahal baru berjalan 2 menit !
Tiba-tiba istrinya muncul dengan nafas tersengal-segal juga – mungkin karena berlari dari taksi.
Mas..mas....mas kan masih punya lima puluh ribu kan ?
Pahijo mengangguk.
Pinjamin sopir taksi dulu dong ! kan bayarannya kurang segitu.....Kasihan dia mas...............


Penutup
Pahijo termanggu setelah mengangguk dan istrinya tersenyum senang, lalu membalikkan badan untuk segera melanjutkn tugasnya. Ia sayang istrinya dan tak mau mengecewakannya. Tapi hatinya hancur dan ia baru menyadarinya. Maka sponta ia sebut nama istrinya.
Yaat...Yati...

Suara Pahijo lirih, tidak terlalu kencang. Mungkin masih terbersit keraguan, antara menyetujui sehingga tak sampai mengewakan istriya  atau mengutarakan suara hartinya yang bisa membuat istrinya kecewa.
Entah suasana malam yang hening , atau tatapan mata Pahijo ke arah istrinya yang penuh harap (konon keadaan dimana Pahijp konsentrasi penuh, bisa jadi telepati)  atau kebetulan istrinya menengok kebelakang, yang jelas istri pahijo kemudian berbalik untuk berlari kembali ke suaminya.
Yati, apa dariku tidak lebih baik sehingga kamu memilih dia.....
Istri Pahijo tercengang dan terharu melihat tatapan sayang suaminya yang selalu ia suka itu.
Tanpa komando mereka berlari meninggalkan taman maksiat itu.


Rabu, 08 Mei 2013

HA KOK TEMBUS ???



Daren adalah serdadu muda, asli pelosok desa sekitar Trenggalek. Waktu remaja anak ini buandel, sudah kenal soal genital segala yg pada gilirannya kenal yang genit-genit juga. Beruntung ia praktek genital itu lokasi pelampiasan resmi shg tak sampai menyebabkan burungnya pilek. ia ditempatkan di Papua dan kebetulan dapat penugasan mendadak di pinggiran Jakarta. Biasa siaga keamaanan bersama. Di papua ia bingung milih lokasi pelampiasan, soalnya bisa dimana aja dan yah macam-2 alasannya shg ia khawatir keselamatan burung kesayangannya.
Sebelum mendarat di Halim, ia kasak-kusuk dgn sejawatnya, cari tahu dimana buang syahwat yg aman. Sejawatnya bilang, lokasi resmi jauh dari Halim. “Bakal ga keburu kau. Kita dikasih rehat 3 jam, lalu harus siaga lagi. Jarak tempuh ga keuber.” Sejawat llainnya yg kebetulan dengar nyeletuk. Mau enggak lokasi swasta, jarak tempuh paling satu setengah jam. Sejawat itu lalu membisikinya, kasih tahu tempat di pinggir Bekasi yang kondisinya mirip dengan Taman Lawang .
Daren langsung melesat by taxi ke taman pinggiran Bekasi. Semula grogi juga melihat dua tiga sejoli pacaran di taman. Mereka nongkrong saja di rumput dekat gumbulan tanaman hias. Penerangan bulan jelas tak memudahkan siapapun yang lewat melihat mereka bercumbu dan saling meremas. Satu dua cewek lewat dan bergenit menggoda Daren . Tapi ia cuekin. Daren merasa wajar saja banyak cewek menggoda dirinya karena ia memang memang ganteng kok. Di kampung banyak cewek yg ia cuekin meski mereka sudah tak kurang-kurang akal menggodanya sampai kemudian akhirnya ia memilih pergi manjauh dari kampungnya. Iming2 godaan mereka sudah menngerikan di benak Daren. Masa ia diming-imingi main akrobat segala. Sama sekali tak terpiikir oleh Daren bahwa mereka bersikap begitu kan mengikuti pola pikir ato bahka pola perilakunya. Tetapi sesungguhnya Darena pergi atas bujukan --- mungkin tepatnya desakan – kerabatnya. Kecuali ia mau mengawini dua cewek yg hamil akibat praktek genital tadi.
Entah mungkin lantaran diuber dateline, Daren harus memilih. Maka terpilihkan cewek sensual yg tipenya agak macho. Cewe lain make-upnya norak, mana bau parfum menyengat. Kalo yg ini aga soft dan lagi pula buka ia bukan tipe gampangan. Buktinya bukan dia yg nggoda tapi dirinya yg ajak kenalan. Daren siapkan file rayuan gombal mutakhir agar si cewe tipe macho tadi cepat mau. Eh, dasar udah bejo, batin Daren. Dia mau diajak begituan.


Daren menanyakan mau main dimana . Mau losmen? Tanya si cewe. Jauh, Daren ganti tanya. Enggaklah, paling seperempat jam, itu kalo segera ada taksi. Daren berpikir keras dan si cewe paham kesulitan yg dihadapi serdadu yg memang mengaku baru datang dari lapangan. Si cw segera menarik lengan Daren menuju ke tempat yg benar-benar aman di taman itu. Memang agak masuk ke tengah taman sehingga ga bakal bisa dilihat orang – kecuali berada di dekat situ juga. Darena dah kayak kebo dicocok hidungnya.
Dengan cekatan penuh emosi, sang cewe melakukan warming up. Pemanasan. Fore play. Setelah dirasa Daren sudah naik dan gelagatnya minta tahap penuntasan, sang cewe tiba-tiba bilang. “Lewat belakang ya say ?” Daren bengong saja, ga dong maunya si cewe. Sementara nafasnya sudah megap-megap dan jantung berdegub keras. Si cewe ambil posisi berdiri membelakangi Daren. Cowok culun pol ini nurut saja diarahkan sang cewe, kemana dan dimana burungnya bakal nangkring. Daren bener-benar “gelap mata” , maksudnya memang tidak melihat apa-apa. Wong memang gelap. Mendung mensensor rembulan.



Manakala memasuki tahap penetrasi yang segera diikuti gerakan maju mudur kayak gerak piston pada mesin bakarn yang menggerakan roda, Daren sudah merasakan sukmanya melanglang di jagad kahyangan taman sri wedari yang penuh dengan bidadari cantik molek. Mereka seolah-olah beramai-ramai mengerumuni dirinya serta meraba-raba seluruh celah-celah pusat sensitif di selujur tubuhnya.
Daren ini tipe pecinta yang selalu toleran, tak mau egois, tak mau enak sendiri. Berkat bacaan pendidikan sex yang pernah ia tekuni sebelum masuk militer, ia paham bahwa siapapun partner seksnya butuh puncak kenikmatan seperti dirinnya yaitu ejaku;asi atau coitus. Daren masih ingat saran pakar seks bahwa lawan main seksnya akan cepat capai puncak jika dibantu dengan sentuhan atau rabaan pada organ tertentu. Yang paling afdol, kata pakar seks adalah alat kelaminnya. Darena pun mulai mencari-cari tapi rupanya tak segera ketemu mengingat ia harus menjulurkan kedua tangannya. Sementara tangannya meraba ke sana kemari, gerak maju mundur crank shaft secara alami kian cepat. Dan kian cepat. Saat jelang puncak ejakulasi itulah baru kepegang lokasi alat kelamin partner. Maka begitu mau meledak senjata burungya, ia tekan dan remas kuat-kuat.
Apa yang terjadi ?
Daren kaget setengah mati.
Ia tak percaya pada apa yang ia alami.
Bagi Daren, apa yang ia rasa saat meremas sesuatu yang kenyal sungguh tak masuk akal sehingga sepontan keluarlah ungkapan keheranan , “ HA, KOK TEMBUSS.....?”


Jumat, 12 April 2013

JAVA MANIAC





Supelo sesungguhnya bukan FB maniac,juga bukan seperti dibilang pamflet google “orang stress update status melulu kerjanya”. Ia baca FB memang lagi ga ada kerjaan. Drpd bengong. Tak heran temen Fbnya sedikit. Belakangan ini ia agak sering buka FB, hanya untuk memantau status temannya yg mengaku bernama Kismiati. Jelas bukan daya tarik fisik yg menyebabkannya agak ketagihan, sebab foto profilenya abstrak. Cuma data Fbnya mengatakan Kismiati adalah perempuan single usia bawah 30, dan peminat hal-hal jawa. Kismiati memang sering menyampaikan perihal jawa, termasuk wayang, primbon (cinta) dan pengetahuan jawa. Sebetulnya yg merespon sedikit tetapi yg like buanyak baget. Temen Fbnya ratusan,....namun dengan gaya aneh-aneh, khususnya foto profil mereka. Kebanyakan pria. Misal. Nama Sasongko subroto, fotonya pemuda bule pake blangkon solo plus beskap. Ato Sastro Wiwoho, laki bule pakai blangkon plus surjan. Rata-rata dandana mereka waton, asal-asalan. Kelihatan wagu mereka abaikan, yang penting menunjukkan “rasa” jawa. Posena pun cengengesan pula. Supelo heran, hampir semua semua temen Fbnya, cowok-cewek, orang bule dan rambutnya juga banyak yang tidak hitam. Topik status Kismiyati tergolong tidak pop, bahkan “berat”. Misal: wirid hidayat jati, buku diterbitkan Tan Koen Swie th 1941 di Kediri. Ini prosa karya Ronggowarsito. Berisi ajaran moral. Termaktub 8 syarat u/ mjd guru ilmu jaya kawijayan dan pujangga. Wow, berat mau meresponnya. Tapi krn status diracik secara serius sehingga sangat bisa dinikmati oleh Supelo. Di luar dirinya, hanya segelintir yg serius merespon. Sisanya cuma menimpali alias nge-ngongi doang ! entah kenapa Supelo ketagihan dng apapun yg ditulis Kismiati. Lebih-lebih setelah Kismiati buka OL sama Supelo. Mesi tak setiap hari OL – dan kayaknya si Kismi sengaja jaga ritmenya. Se-olah2 ia tahu kapan Supelo sibuk kapan Supelo butuh penyegaran setelah bekerja sepanjang hari.
Berikut kutipan OL mereka setelah bbrp kali OL.
K: Capek ya Ms.
S: iyo-lah lumayan...(tp segera disambung) eh enggak, enggak capai skrg kalo situ nginbox ku
K: bs aj ms. td ngerjain kata apa? (Kismiati tahu Supelo editor ensiklopedia jawa)
S: katuranggan
K: ilmu milih kuda ya....
S: bukan hanya kuda....burung juga
K : wanita juga kan ? Katurangganing wanita. Ciri-ciri fisik wanita yang baik. Orang jawa percaya bahwa ciri-2 fisik mempengaruhi emosi dan sifat-sifat lain. Misal, bibir tipis artinya suka ngrumpi. Betul kan ?
S: yo embuuh, yang perempuan kan kamu. Bukan aku.
K: ya tapi aku kan dudu wong jowo....
S : lho terus wong soko endi ?
Kismiati tak segera menjawab.
S : lho malah mingkem, opo kowe soko planet ?
Hubungan putus. Supelo termangu. Ia coba kontak, ga direspon.
S : tok...tok...kulo nuwun diajeng....kulo nuwun.
Tak ada respon. Supelo merasa bersalah. Besok ia coba lagi nginbox Kismiati. Ia minta maaf tpi ga direspon juga. Galau Supelo. Entah kenapa. Kok ia jadi resah, pengin marah tanpa juntrung. Tiba-tiba sepi. Dunia sunyi padahal di luar sana, hanya beberapa puluh meter dari tempat Supelo duduk, jalanan macet. Bunyi klakson bertalu-talu, ditingkah teriakan pengendara motor yang terpanggang matahari gara-gara macet. Ia sendiri heran. Memang Kismiati itu siapa sih ? Wajah aja ga jelas. Siapa tahu hidungnya malu nongol. mBleseg binti pesek. Siapa tahu dia setengah manusia setengah Vulcan dari planet yang jauhnya ndak karuan,kupingnya lucu kayak Mr Spock ! Jangan-jangan mukanya tirus, bimoli (bibir monyong lima senti) pula. Dari jauh kelihatan wajahnya tak simetris. Supelo sendiri heran mengapa penasaran sama perempuan yang mau-enak-sendiri, tak mau pajang wajah. Takut kelihatan jeleknya kan ? Berarti dia itu tertutup orangnya. Istilahnya kalo laki, tidak jantani. Krn dia perempuan, ya tidak mbaboni. Jujur ia akui , cuma kenal tulisan tok bisa jadi lebay. Pesan indox Supelo cengeng . Walah lebay banget. Cengeng. Tp ga direken sama Kismiati. Sampai akhirnya di hari ke 4 setelah putus hubungan, Supelo kumat ngawurnya saat nginbox Kismiati.
S: Oke aku yakin kau bukan wong jowo apalagi puteri solo yen mlaku koyo macan luwe. Kowe lakune koyo jaran kepang luwe. Gulung koming ra karuan. Kowe ra reti kan boso jowo?
Ga direspon juga. Esoknya Supelo nginbox Kismiati lagi.
K : Kalo kamu wong jowo ato merasa bisa jadi wong jowo, jajal terjemahkan ini dalam boso kromo inggil. Bapak turu aku adus. Pasti ga bakal bisa, wong planet dikon boso, ra bakal iso. Uu..u!
Eh 3 menit kemudian dia jawab
K : bapak sare kulo siram
S: ha...ha...ha.. ketahuan kan wong jowo lahir di planet Mars
K : ga lucu
S: ya emang, kowe yang ga lucu
K : kok mas ngatain aku gitu sih ?
S: ya jelas, wong bercanda gitu aja, nesu
K : iyalah, masak aku dikatain wong planet !
S : tapi emang bukan kan ?
K : bukan apaan ?
S : bukan orang dari planet ?
K: Akh, ya bukan lah !!
S : ya sudah. Emang masalah buat lu ?
Tak ada tanda-tanda respon tapi OL tidak diputus. Setengah jam kemudian...
K : mas, kita ketemuan yuk ?
Bak dihajar petir di siang hari yg cerah tanpa mendung. Supelo kaget membacanya. Perempuan ini sedheng ( = sinting) kali ya. Ngapain gitu lho? Tampangku jelas ga ganteng, jelek banget juga enggak sih tp yang jelas aku tidak modis. Dan itu aku akui. Ga pernah nyombong ato pamer pinter sekalipun. Apa yang akan diperoleh dari laki-laki biasa, sangat biasa seperti diriku? Mbayol juga ga bisa. Nyanyi, mblero. Nggitar apalagi. Ketrampilan ini digandrungi kaum Hawa. Begitulah pkiran Supelo sehingga wajar bila ia tak segera merespon
Setengah jam kemudian ....
K : ngapa mas ragu-ragu ?
Lhoh kok dia tahu aku bimbang, pikir Supelo
S: ga papa ketemuan, tapi jangan sekarang. Lagi banyak kerjaan....
K: walau 10 menit saja?
Ya kan, cewek ini sedheng kok. Dindng FBnya nyebut domilisi Jakarta tapi mau ketemu 10 menit.....?
S: tahu posisiku dimana ?
K: Yogyakarta
S: so, kok maha penting banget dari jakarta ke yogya hanya untuk 10 menit ?
K: Emang masalah buat elu ?
Edan, edan, edan ! ini emang cewek edan. Titik. Ia diamkan saja. Setengah jam kemudian
K: mas....marah ? enggak marahkan ? Ayolah mas, ojo nesu. yen ora iso ora opo-opo tapi ojo nesu karo aku yo ?
Bagaimana pun tersentuh hati Sepelo baca pengakuan Kismiati
S : Kamu serius ?
K : sejuta serius. Bener . sumpah !
Supelo jadi mikir. Cewek kalo mau ketemu cowok tidak ganteng, tidak keren, tidak kaya pasti cewek jelek. Tidak laku pula. Eh tiba-2 Kismiati menjawab keraguan Supelo.
K : bukan watakku sombong, aku tak sejelek yang mas bayangkan. Yakin deh.
Lho kok tahu dia apa yg kupikirkan, kata Supelo dalam hati.
S : oke. Kita ketemu tapi boleh aku tahu agendanya apa ?
Agak lama baru dijawab Kismiati
K: umpama aku pajang foto profilku, dan ternyata....ah enggak jadilah.
S: what ? go on ....
K: aku kepingin diskusi bab tipe perempuan menurut pemikiran wong jowo. Skripsi mas kan membahas perempuan-perempuan ledek di daearah di Jawa Timur. Mestinya paham dong apa itu Ratna Kencana, Puspa megar , Amurwa Tarung, Condro Welo...... ?
Kok sempat-sempatnya ia mau baca skripsiku. Pasti ia ke perpus di Sekip untuk membacanya.
S: dua yg terakhir ga pernah dengar, yg kutahu tipe wanita seperti kunci mas, Lintang kedip, ...padmonegoro, nariswari....
K : dari kacamata seksual ya....menurut kamasutra kan ?
Tersipu Supelo...tapi ia mengakui wacana Kismiati luarbiasa.
K: kategori tipe yg kusebut tadi lebih komplit. Malah bab seks lebih detil. Misal condro welo. Ini tipe wanita pemurung dan se-olah2 selalu dirudung ketakutan. Bibirnya mungil, bimoli dikit....bibir monyong lima senti eh..mili....ia perasa, peka thd gejolak hati lawan bicaranya. Kelemahannya, pemalas dalam seks . ogah-ogahan. Kurang bisa menikmati seks scr wajar.
S : aku sbg apa? Nara sumber juga kalah sama kamu
K: entar juga mas tahu sebagai apa. Ketemu makan siang besok di Hotel Ibis. Dagen ya mas ?
Resto di Hotel Ibis tetap terlalu wah banget bagi Supelo meski bukanlah asing baginya . Sudah banyak sekali hotel berbintang yang ia kunjungi. Ia kerap jadi panitia seminar topik jawa. Pelayan resto menyambut dan mengkonfirmasi namanya. Begitu Supelo mengangguk, pegawai cantik itu menawari minuman hangat ato dingin. Supela minta es teh.
Supelo duduk terpaku tanpa melakukan sesuatu, tak baca koran yang disediakan resto, atau pegang BB atau buka laptop. Hanya duduk diam mematung. Ia memang datang lebih awal 10 menit. Tiap kali pintu resto dibuka, ia perhatikan seksama. Jika tamunya wanita ia tegang. Ini kah Kismiatia pikir Supelo. Ternyata bukan.
Terdengar deru mesin. Masuk bis wisata ke halaman parkir depan. Tak seberapa lama rombongan wisman yang turun dari bis masuk resto. Tidak semua memang tapi tetap saja berisik. Semua wisman bule. Yang cewe bahkan cuma pakai jin dan beha doang. Supelo mengakui wisman cewe kali ini rata-rata keren, manis dan kulitnya mulus bersih. Hampir semua meja terisi. Mereka tak mau mengusik meja Supelo. Mendadak salah satu cewe bule nyasar ke meja Supela. Ia tersenyum. Manis sekali. Supelo membalas dengan senyum seramah mungkin meski batin nggrundel karena si wisman pasti keliru meja. Meja kursi sudah ditempati kok datangi juga. E,malah langsung duduk, gerutu Supelo. Ia lihat sekeliling ruangan. Diujung sana masih ada dua-meja kosong, kok turis ini malah milih ke sini, sih. Manis sih manis tapi mbokya-o jangan kampungan ngono, batin Supelo.
“Mau pindah ke sana kita ?” tanya wisman manis itu.
Supelo melongo. “Kita?” batin Supelo. Ia tak heran sama sekali sama turis bule lancar bahasa Indonesia. Tapi tak membuatnya terkesanm cuma Ia memang tidak biasa segera menolak tawaran apapun. Ia cuma bisa menatap bengong.
“Oh, maaf ya mas, saya belum memperkenalkan diri.....” kata si cewe bule lalu menatap Supelo seperti menunggu reaksi Supelo. Reaksi Su;pelo tetap blank dan melonngo. Cewe bule mengajak salaman. “ Saya Kismiati, mas...”
Jeger ! jantung Supelo hampir mbledos saking kagetnya. Sama sekali diluar dugaan kalau Kismiati teman facebooknya itu bule. Cantik manis pula. Supelo menatap Kismiati tak berkedip lama sampai disadarkan oleh teman fbnya itu. “Mas.....” Segera Supelo berdiri menyambut uluran tangan Kismiati. ”Oh...sil...sil..silakan duduk..(padahal sudah dduk) .mau pesan minuman apa ?”
Pelayan resto datang mengantarkan minuman jus dan sebotol Aqua. “Termia kasih Mas Supelo, saya sudah pesan dari taksi sebelum sampai di sini....”
Meski upaya Kismiati sudah maksimal muntuk mencairkan suasana yg beku akibat terguncangnya sukma Supelo, tetap saja Supelo masih kikuk. Mana suasana kian hiruk-pikuk dengan bertambahnya wisman yang masuk resto. “Mas mau pesen makanan apa, sekarang sudah jam 12 lewat lho, ...?” kata Kismiati.
“Nanti saja....aku minum dulu,” kata Supelo sembari mengambil es tehnya.
“Mas pengin makan di luar ?.....SGPC selokan misalnya....?” ajak Kismiati.
Supelo sampek tersedak mendengar tawaran Kismiati yang buru-buru minta maaf. Campur baur perasaan Supelo sehingga ia hanya bisa mengangguk saja. Mereka ke warung SGPC naik taksi yang langsung dibooking Kismiati untuk menunggu mereka. Jam satu memang mulai sepi warung SGPC . Menunya tidak lengkap tapi setidaknya Supelo lebih lega batinya seolah-olah dirinya dikembalikan ke dunianya kembali. Ia sama sekali lupa bahwa biasanya ia heran, kok Kismiati tahu ia lebih suka ke suasanan macam SGPC daripada dugem.
Maka Supelo mulai giras. Ia menuju display menu yang tersisa, dan pesan nasi pecel ke sukaannya. Dari jauh ia menatap Kismiati nyang segera berteriak, “Samakan saja Mas “. Tamu warung cuma 3 orang. Lebih banyak karyawan warung. Semuanya spontan memperhatikan Kismiati dan Supelo. Seo-lah mereka pasangan seleb. Walau terbersit perasaan tak enak namun diam-diam Supelo bangga juga bawa perempuan sangat keren, bule, tapi bisa bahasa Indonesia lancar dan lebih hebat lagi...sudah akrab begitu. Kecanggungan Supelo sirna dengan sikap Kismiati yang “biasa”, seolah-olah ia memang sahabat lamanya. Ia makan nasi pecel leko seperti dirinya tanpa banyak bicara atau bersikap berlebihan. “Kamu pernah makan di sini ya,” tanya Supelo.
Kismiati menggelengkan kepala tanpa menghentikan aksi makannya. “Pernah mencicipi pecel juga?” Kembali Kismiati menggeleng kepala.
Supela menghentikan makannya dan itu mengganggu Kismiati. “Emang masalah buat elu ?” canda Kismiati. Tentu saja Supeo tersenyum, dan demikian juga orang-orangyangmendengarnya.
Salah seorang karyawan warung yang rupanya kenal sama Supelo bertanya lantang, “Temen lama Mas ? Asalnya mana ?”
“Dia ini baru saja turun...baru saja, tuh masih hangat badannya,...baru turun terus jemput aku pakai taksi,” seloroh Supelo.
“Dari bandara Adi Sucipto? Tadi naik pesawat ?”
“Bukan. Dia turun dari Kahyangan. Batara Narada menghukum dia agar ke bumi. Benerin orang kayak aku ini....” seloroh Supelo sembari tertawa. Kontan Kismiati tertawa demikian juga orang-orang di warung.
Merasa tak enak, Kismiati lalu ia segera mengatakan kepada semuanya bahwa dirinya berasal dari Belanda dan di Indonesia dalam rangka studi jawa. Supelo baru tahu kalo Kismiati orang Belanda.
Di dalam taksi dalam perjalanan balik ke hotel, Supelo menanyakan menapa pakai nama Kismiati. “Pakai nama samaran saja, sudah buanyak yang mbututi aku. Apalagi pakai nama asl,” ujar Kismiati. Menurut Kismiati mereka bukan sahabat. “Mereka laki-laki, betul kenal aku di Eropa, tetapi sesungguhnya mereka mengincar diriku.”
Mengincar? Emang situ mangsa mereka apa ?
Kismiati tersenyum dan tiap kali Kismiati tersenyum, jantung Supelo seperti kram. Mogok berdetak lantaran kurang oksigen. Supelo memang sedang tahan nafas, saking gemes oleh senyum manis Kismiati. “Mas akan tahu sendiri nanti. Kukira tak penting membicarakan mereka,” tambah Kismiati.
Sampai di hotel Kismiati ngeloyor jalan saja menuju lift tanpa perlu memantau temennya ngekor enggak. Sampai di dalam lift Kismiati tengak-tengok mencari-cari Supelo. Ternyata Supelo masih berdiri di lobi depan resto. Terpaksa Kismiti mendatangi Supelo.
“Mau kemana?” tanya Supelo.
“Ke kamar lah, katanya kita mau diskusi...”
“Kenapa tidak di kafe sini saja....” saran Supelo sambil menunjuk restoran.
Kismiat menatap dalam-dalam Supelo sebelum mengangguk tanda setuju.
Mereka mengambi meja di tengah. Kali ini sepi, soalnya sudah jam 2. Pelayan datang. Supelo minta kopi hitam dan snack. Mereka pun ngobrol bla-bla bab keadaan Jakarta, lalu kopi dan pesanan Kismiati datang, lalu mereka mencicipi pesanan mereka, lalu ngobrol lagi sampai tiba-tiba Kismiati mengalihkan topik pembicaraan. “Aku belukm punya pacar, mas sudah punya?”
Supelo gelagepan ditodong pertanyaan menjurus begitu.
“Emmm, belum juga, cowok kayak aku cewek mana yang mau....” kata Supelo merendah.
“ Aku” kata Kismiati datar. Supelo langsung tergelak.
K : Aku belum punya pacar, mas juga belum punya. So ?
Supelo masih cengengesan sementara Kismiati terus memancing. “So?” kata Kismiati.
Melihat Kismiati kelihatan serius, tidak sedang bercanda, Supelo berhenti cengengesan.
K : kenapa mas ga coba bilang, “aku belum punya pacar, kamu juga, kenapa kita tidak pacaran saja?”
Spontan Supelo tertawa ngakak. “Ha...ha...ha....” Tapi Kismiati diam. Diam dengan bibir terkatub rapat. Sehingga Supelo terpaksa menghentikan tawanya.
“Kenapa mas tertawa begitu ? Sepertinya mas sedang menertawakan kekonyolan....”
Supelo diam merenung serius sebelum menyruput kopi panasnya. Lalu menatap tajam Kismiati.
Kismiati balas menatap.
“Kamu terlalu mewah bagiku.”
“Tapi aku jatuh cinta padamu, Mas,” kata Kismiati lirih tapi tegas.
















Kaget sih jelas tapi secepat kilat Supelo menyadari keadaannya. Ia tipe orang yang logis. Segala sesuatu harus dipandang dalam kacamata logis. Kismiati itu bidadari. Sudah jelas cantik, seksi, mulus, tinggi semampai, sintal, santun, rendah hati, kaya, pinter, harum,....apalagi? Sedangkan dirinya itu apa? Tidak ada apa-apanya kalau mau disanding sama dia. Andai film seri TV the beauty and the beast dibuat lanjutannya, pastilah episode ini....demikian Supelo berdialog dengan dirinya sendiri. Supelo tak bisa segera menjawab, tak kuasa menjawab. Ia cuma bisa bengong dan bengong.
“Oke...ga papa, “ kata Kismiati sambil nenghela nafas. Tampaknya ia menahan kecewa tetapi berusaha menyembunyikannya. Ia yakin Supelo belum punya kekasih maupun gadis yang ditaksir. Tapi mengapa. Ia berpokir keras. “Tenang mas, tenang “ sarannya, padahal justru dia sendiri sedang menenangkan diri.
“Umpama mas belum bisa jawab sekarang ya ga papa. Aku mau naik ke kamarku,mau mandi. Umpama sudah mau jawab, langsung saja naik ke lantai 3, cari kamar 29. Ingat ya mas 3-2-9. Sampai kapanpun aku tunggu, kecuali jawaban mas, TIDAK. Ato paling gampang adalah mas tinggalkan hotel ini nanti atao kapan saja. Dan itu sudah suatu jawaban bagiku. Oke ?
Siupelo masih termangu, hanya bisa memandang Kismisati saja.
Supelo tepekur, merenung dalam-dalam. Ia sesungguhnya, tak percaya apa yang baru saja dialaminya. Pada saat begitu ia meimilih untuk menenangkan diri dulu. Ia pesan kopi hitam lagi. Dan kripik atau gorengan seperti balok atau tempe....
Pesanan Supelo datang, Ia tak terbuai oleh mimpi yang bakal terwujud jika ia naik ke kamar Kismi di lantai 3. Terlalu mudah dan surgawi bagi Supelo malah tidak bagus. Ia percaya banget setelah tertawa terpingkal-pingkal tanpa sebab – misal nonton dagelan – biasanya akan datang kesedihan mendalam. Sebaliknya jika kena apes, akan kejatuhan rejeki – apapun. Jangan heran bila lihat Supelo pasip saat lihat dompet tergeletak di jalan. Jika ia ambil, kerugian yang bakal menimpanya lebih besar daripada nilai uang dalam dompet itu. Pernah temennya misuh-misuh gara-gara Supelo mengembalikan kelebihan kembalian uang yang diberikan petugas pom bensin.
Supelo tak mau gegabah sebab ini perkara besar – dan sama sekali tak terlintas dalam benaknya bahwa surgawi yang bakal ia reguk itu supra eksotik. Selalu ia pertimbangkan pahit-asamnya dulu daripada manisnya. Lama ia ngopi sambil termenung. Beberapa kali ia menarik nafas panjang. Untung ia tidak merokok. Panggilan azan menyadarkannya ia pergi ke musholla. Usai sholat Supelo berdiam diri di mushola cukup lama. Entah duduk atau tidur orang-orang tahunya ia betah di dalam musholla sampai magrib. Usai shalat jamaah baru ia kembali ke resto hotel lagi. Kali ia pesan teh manis panas dan kletikan macam peyek, rengginang. Tampilan Supleo kini lebih segar dibanding sebelumnya yang tampak kusut.
Ia menempati meja kursi yang sama. Koran sore disediakan resto tapi Supelo memilih tidak ngapa-ngapain, dan sesungguhnya ia tak tahu mau apa kecuali menunggu. Menunggu apa juga ia tak tahu persis gunanya. Sebab jika ia ingin bicara dengan Kismiati, bisa aja minta tolong orang kafe untuk memanggilnya – ia tak mau ke kamarnya. Lebih baik menunggu bola saja, setidaknya tidak pulang. Pulang berarti penolakan. Supelo bukan menutup puntu cinta bagi Kismiati. Ia cuma butuh waktu untuk meyakinkan diirinya bahwa cintanya ini bukan seperti nemu sekarung intan berlian di tepi jalan. Dan ini bisa tidak membawa berkah. Biar saja orang omongin dirinya kolot atau bodoh.
Seorang lelaki perlente usia 30-an datang lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat.
“Saya Bram van Jaarke, kerabat Kismiati.....”
Supelo segera menyambut tangannya sambil menyebut namanya.
Tanpa basa-basi si pendatang mengatakan bahwa dirinya itu kerabat tua Kismiati. Ia juga menjelaskan bahwa dirinya ikut FB dengan nama Bambang Sumantri. Supelo coba mengingat-ingat temen FB yang mana ya. Wajahnya indo. Ganteng, perlente, persis Roy Martin muda.
Si Bram “Roy Martin” membeberkan bahwa nama Kismiati sebenarnya Kizzy van Jaarke. Kizzy nama Gipsi, artinya murah hati. Bram mengaku asli dari Belanda, Holland. “Dalam diri Kizzy mengalir darah gypsy. Neneknya gypsy asli. Papanya campuran Jawa-Belanda. Tentu Anda bertanya-tanya, aku ini mau apa sih ? Yah, saya sekedar melaksananakan pesan nenek Kizzy untuk menjaga Kizzy.”
“Memang dia kenapa ?” tanya Supelo.
Menurut psikiater ia penyandang nymphomaniac. Ia tergila segala hal jawa. Apa saja, makanya ia mempelajari hal-hal jawa. Ia ambil studi jawa dan memperadalamnya sampai S 2 sekarang. Ia juga belajar dan ikut karawitan dan seni tari di Solo. Semua gending dan wayang ia kuasai. Masalahnya, cakupan nymphomaniac termasuk laki-laki. Sex ! Entah bagaimana kelainan ini sampai bocor dan anda lihat sendiri begitu buanyak laki-laki menunjukkan kesan bahwa dirinya jawa di FB Kizzy. Tentu pihak keluarga prihatin, sebab keluarga kami cukup terpandang di Hollad maupun Eropa. Namun untungnya ia masih rasional. Tak membabi buta. Cuma nenek berpesan supaya saya menjaganya sampai ia menemukan orang yang tepat,...dan sekarang kayaknya saya mau pulkam.”
Pulang kampung Holland ? tanya Supelo. Bram mengangguk. “Emang Kismi eh Kizzy sudah mendapatkan pria yang tepat ?”
Bram mengangguk yakin sembari tersenyum lega. “Ya, pulanglah. Waktuku terbatas, aku musti pulang ke ‘asalku semula’ ...selesai tugasku”, tambahnya. Bram berdiri mau minta pamit.
“Wuoo, wo, woo...bag, bagaimana kalo ternyata ia belum menemukan pria yang tepat ? “ tanya Supelo.
“Emang kenapa ? “ pancing Bram.
“Ya...tidak bagus, tidak bagus bagi Kismi, eh, Kizzy,....”
“Ya “ kata Bram. “berarti muncul kemungkinan kekurangan Kizzy akan dimanfaatkan ”.
“Dimanfaatkan sebagai budak nafsu...” Supelo mempertegas.
Bram mengangguk dengan eskpresi sedih.
“Berarti Anda tidak sayang dong sama Kizzy....” tegur Supelo.
“Sayang, “ tandas Bram. “tetap sayang sampai kapanpun. Yang memberi nama samaran di FB itu dia.
Kizzy paham wayang. Ia tahu Bambang Sumantri sayang banget sama adiknya, Sukosarono, ato
Sukrosono, raksasa kerdil tapi sakti dan berbudi luhur..”
“Ya, tapi kan beda banget. Beda jauh , ibarat langit dan bumi, kata Supelo.
“Antara siapa ?”
“Kismiati dan Sukosrono.”
“Oh, kamu mempertimbangkan fisik ya...oh ndak papa. Wajar menilai orang dari fisiknya”, kata Bram. Komen Bram mengetuk nurani Supelo. Selama ini ia tak pernah semata-mata mempertimbangkan aspek fisik. Bram alias Bambang Sumantri menjabat tangan Supelo untuk pamit. “Good luck, God bless you.”
Bram ini jelas indo, tapi Kismiati jelas bule londo. Cuma memang kulitnya agak kemerahan, tidak putih banget. Rambutnya hitam dan ikal. Mungkin pengaruh darah Gipsi kali.
Beda sekian detik mungkin, Kismiati muncul, pas Supelo memperhatikan pintu masuk. Ia tampak cantik dan anggun dengan jin dan kaos putih. Supelo juga mencari arah kemana Bram pergi baru saja,...tapi kok saja tidak tampak sama sekali. Mosok ia bisa menghilang kayak jin. Entah Bram lewat mana yang jelas Supelo tahu Bram tidak berpapasan dengan Kizzy, eh, Kismiati.
Kismiati tersenyum lepas bagitu tahu Supelo masih di kafe hotel.
“Mas masih di sini to ? Kok diam saja, kalo aku tahu pasti aku temani. Capai ya mas ? aku kejam ya mas ? mestinya aku ga maksain mas untuk jawab iya atu tidak....maaf ya mas ... “
Supelo hanya tersenyum saja sembari mempersilakan Kismiati duduk. Keluguan masih terpancar dari dalam Kismiati. Apapun tengkah lakunya wajar. Tak pernah dibuat-buat untuk memberi kesan tertentu. Itu salah satu yang disukai Supelo. Kismiati pesen kopi susu dan roti keju. Kismiati antusias ajak ngobrol Supelo. Sepanjang hampir sejam Kismiati mendominasi obrolan. Tetakala kehabisan bahan bicara, Supleo mengajaknya keluar. “Jalan-jalan mau ga ?”
Yuk, katanya segera berdiri dan mengulurkan tangan hendak menarik tangan Supelo. Belum tanya mau diajak kemana, Kismiati sudah setuju. Dasar tak biasa romantisan, Supelo berdiri tanpa menyambut uluran tangan Kismiati. “Stasiun, nasi kucing, jalan kaki. Piye ?”
Kismiati setuju tapi Supelo berubah setelah ingat Malioboro sesak bagi pejalan kaki. Ia minta naik beca. Di tempat nasi kucing Jl Mangkubumi mereka cuma makan minum tok, ga bisa ngobrol bebas. Bagaimanapun mereka risih, orang-orang pada nonton mereka. Supelo usul ke alun-alun depan Kraton. Kismiati ya aja. Supelo usul naik taksi saja, beca sempit. Kismiati setuju meski ia hapi saja mau beca sempit atau tidak. Diajak kemana saja, diajak apa saja, Kismiati iya aja. Belum sampai Pasar Bringharjo, Supelo usul lagi. Ke Parangtritis. Malam begini ? tanya Kismiat meski toh setuju saja tanpa argumen.
Pantai Parangtritis di waktu malam sepi. Tentu saja. Beberapa pasangan memadukasih. Entah pacar beneran atau ketemu “pacar” di sana. Taksi disuruh tunggu sementara Supelo dan Kismiati ngobrol. “Kamu tadi siang ga jadi kasih tahu nama asli kamu ya” kata Supelo.
“Kizzy.” kata Kismiati.
“Kizy,......” pancing Supelo
“Kizzy van Jaarke”.
Supelo mancing lagi dengan pura-pura tidak tahu arti namanya.
“Bahasa gipsi. Nenekku gipsi tulen, masih hidup. Kizzy artinya murah hati..” papar Kismiati,
“Bram,....Bram ? Pernah dengar nama itu dalam keluargamu?” tanya Supelo.
Kismiati memlingkan muka supaya bisa menatap Supelo. Sorot mata penuh selidik tapi kemudian ia tersenyum. “Papa.....”, jawab Kismi.
Supelo kaget. Baru kali ini ia cepat terkejut. “Papa ? bukan kakak?”
“Papa. Memang dia juga aku anggap sebagai kakak. Aku kan anak tunggal. Nama papa di FB Bambang Sumantri. Aku yang sarankan, “kata Kismiati dengan tersenyum senang. Sepertinya terkenang momen manis bersama papanya. “Aku memang mendambakan kakak laki-laki yang bisa membimbingku, bisa mengarahkan aku tanpa memanjakanku. Hampir semua memanjakan aku. Termasuk temen-2ku di Holand. “
“Kalau kamu anggap Bram sebagai kakak juga , boleh tahu mengapa kamu pilih nama Sumantri ?” tanya Supelo.
“Mas mengkaitkan dengan adik Sumantri ya ? anak cacat itu? Raksasa kerdil kan cacat.”
Supelo manggut-manggut. Kimiati menatap tajam Supelo lalu berpaling memandang bulan yang memang sedang purnama.
“Bulan dari jauh tampak cantik ya....” kata Kismiti dengan memandang bulan, pikirannya menerawang. Agak lama ia memandangi rembulan dan Supelo membiarkan saja. Senaja ia tak mau mengganggu Kismiati yang sedang membayangkan sesuatu. Meski suasana remang-remang, hanya mengandalkan penerangan cahaya bulan, tapi Supelo tahu mata Kismiati sembab. Padahal kalo didekati, lanjut Kismiati, bulan itu cacat. Mukanya bopeng. Supelo tahu air mata Kismi menetes tapi ia enggan menengok Supelo. Ia mengusap air matanya dengan tangan kanannya.
Supelo meraih tangan kiri Kismiati lalu menggenggamnya. Kismiati berpaling memandang Supelo. Pancaran cahanya rembulan seolah-olah sengaja menyorot wajah Kismiati yang sedang berurai air mata. Tak kuat menahan kesedihannya. Ia mendekap Supela dan menangislah ia dalam pelukan Supelo. Supelo menenangkan dengan mengelus dan menepuk halus punggung Kismiati. Baju Supelo basah oleh air mata Kismiati. “Sama dengan keadaanku mas,” keluh Kismiati. “Aku cantik. Secantik bulan purnama itu. Orang tahunya dari jauh, tidak tahu aku ini cacat mas..”


Kimiati memisahkan diri, menjauhi Supelo. Ia merasa malu. Supelo mendekati Kismiati. Tap Kismiati tak mau berpaling, tetap membelakangi Supelo.
“Kubilang sama papa, alasan aku namakan papa Bambang Sumantri, supaya papa seperti Sumantri. Sayang sepenuh hati kepada darah dagingnya sendiri. Sang adik, Sukrosono. Ia lahir cacat dan dibuang di tengah hutan yang penuh binatang buas dan ganas. Supaya binatang mencabiknya sampai mati. Tahukah kamu mas, Sumantri sayang banget sama adiknya yang buruk rupa sejak lahir. tiap hari Sumantri momong, ajak main adiknya sampai puas. Sumantri menurut saja ketika sang adik minta digendong keliling tepi hutan, sampai adiknya lelah dan ngantuk. Kadang malah Sumantri yang pulas duluan saking lelahnya.....Sumantri kan masih remaja sementara sang adik badannya besar dan tentu saja berat. Sumantri berlari-lari kecil menggendong sang adik yang tertawa-tawa girang.”
Kismiati tertawa masam.
“Jika belum tidur juga, tak jarang Sumantri nembang untuk meninabobokan sang adik tersayang....ia nembang gending-gending lullaby dengan suara merdu...”
Lalu menembanglah Kismiati di pantai Parangtritis di malam yang sunyi itu.... .....
Lingsir wengi sliramu tumeking sirno /
Ojo tangi nggonmu guling /
Awas jo ngetoro /
Aku lagi bang wingo wingo /
Jin setan kang tak utusi /
Dadyo sebarang /
Wojo lelayu sebet /


Suara merdu Kismiati terdengar bening di malam yang sunyi, diselingi debur ombak Parangtritis. Syair mocopat Kidung Lingsir Wengi ini termasuk dalam pakem Durma yang mampu mengolah suasana jadi suram dan sangar. Lebih-lebih lama-lama suara Kimiati semakin meyayat hati. Perempuan Eropa ini membawakan kidung dengan perasaan sepenuh hati. Suasana malam di Parangtritis penuh hawa magis, menyebabkan Supelo merinding. Usai nembang, Kismiati menundukkan kepala. Merenungi nasibnya.
Supelo mendekati Kismiati yang masih membelakanginya. Dengan halus ia menyentuh pundak Kismiati lalu berkata lirih, “Kok serem begitu ninabobonya.”
“Entahlah mauku nembang ‘Lelo lelo ledung’ tapi keluar kidung itu......memang hatiku lagi muram dan ingin rasanya aku menjerit sekencang-kencangnya,...aku ingin marah tapi aku sadar aku tak punya alasan apapun untuk marah. Mungkin amarahku kepada diriku sendiri yang lemah....”
Supelo memegangi pundak Kismiati dai belakang, dan perempuan manispun tergerak untuk membalikkan badan menghadap Supelo. Mereka bertatapan dalam jarak dekat sekali
“Mas, boleh aku terus terang mengutarakan permintaanku, tapi jangan marah ya atau tertawa. Permintaanku ini aneh,” kata Kismiati.
Mereka bertatapan agak lama dgn pikiran masing-masing . Supelo menyimak bener, kira-kira macam apa anehnya. Sedangkan Kismiati coba meneropong hati Supelo. Kira-kira marah lagi enggak kalau permintaan nyleneh itu disampaikan. Ragu-ragu berarti jangan, pikir Kismiati.
“Nanti aja mas”, kata Kismiati. “Kita jalan-jalan di pasir yuk”, ajak Kismiati sembari mengulurkan tangan. Kali ini Supelo menyambut uluran tangan Kismiati. Mereka bergandengan berjalan-jalan di pasir sampai keki mereka basah oleh air laut. Angin laut malam berhembus, menerpa wajah mereka. Supelo menguap. Jelas ia lelah. Tapi bisa juga bercampur jenuh. Kismiati tahu hal itu. Ia ajak pulang dan Supelo tampak “melek” alias cerah raut mukanya.
Taksi langsung tancap gas begitu mereka sudah tampak jenak duduknya. Belum sampai puluhan meter. Supelo sudah mengaup beberapa kali. “Sini, bubuk sini,” Kismiati menawari pahanya untuk dipakai bantal bagi kepala Supelo yang mesam-mesem saja.
“Tadi Kismiati mau minta apa kepadaku ? “ Supelo coba mengaliihkan suasana. Kismiati menengok untuk menatap Supelo. “Enggak enggak, enggak bakal nesu aku, Kis....” . Kismiati suka mendengar Supelo menyebut dirinya dengan panggialn akrab yangsedap ditelinganya, Kis. Nada suaranya lembut dan mesra menurut pendengaran Kismiati.
“Mas mau jadi Bambang Sumantri bagiku ?”
Supelo dinasehati oleh ayahnya agar tidak cepat heran (gumunan), tidak cepat-cepat bereaksi atau segera meluapkan emosi. Apakah sedih atau gembira. Maka Supelo diam sejenak meski sempat terhenyak ia tadi.
“Mas,...,” suara Kismiati lirih. Ia khawatir salah langkah lagi.
“Memang tidak mudah menjadi sosok Sumantri, tetapi aku akan berusaha,” ujar Supelo akhirnya. Aku bisa ajak main kamu, bahkan nggendong kamu masih kuat sambil lari. Cuman satu hal yang aku tak bsia menjalani.”
Apa ? tanya Kismiati agak degdegan.
“Nembang. Aku sama sekali ga bisa nembang. Apalagi nembang lullaby.”
Kismiatai tertawa terpingkal-pingkal. Sampai keluar air mata, bahkan ketika tawanya sudah surut air matanya masih berlinang. Sengaja Kismi memalingkan muka dari Supelo dengan memandang jalanan agar wajahnya tak sampai diamati Supelo. Untung lampu taksi tak dinyalakan. Ia lega, dan airmatanya kali ini adalah airmata bahagia. Bagi Kismiati, tangapan Supelo itu merupakan ungkapan cinta baginya.
“Kis,....kok diam sa” , kata Supelo.
“Iya...iya...tapi aku tak percaya mas ga bisa nembang, “ goda Kismiati.
“Sumpah Kis, disambar anaconda atau digigit komodo , aku ga bisa.”
Geli juga Kismi mendengar sumpah Supelo dengan menyebut binatang yang tidak berkeliaran di Jawa. “ Tapi nyanyi lain bisa kan ?”
“Iiiya..iya bi..bisa tapi suaruku fales. Pelajaran menyanyi ku dulu dapat 6.”
“Coba dulu ga apa, adik Sumantri akan selalu mendengarkan dengan senang hati.”
Rayuan Kismi menyemangati Supelo untuk pamer olah vocalnya. “Lagu apa mas ? Koes Plus? Panbers”
“Rock’nRoll”
“Wee....” seru Kismi sembari tepuk tangan. Supelo atur pernafasan untuk menenangkan batin.
“Lagu siapa mas ?”
“Elvis.”
“Wao, wao...aku suka,...bilang dari tadi kek, aku bisa ngimbangi nanti.”
Suasana batin Supelo mulai tenang. Suasana tenang ikut mendukung Supelo. Dan keluarlah suara tenor Supelo.
“Kiss me quick While we still have this feeling.
Hold me close and never let me go
‘Cause tomorrows can be so uncertain
Love can fly and leave just hurting
Kiss me quick because I love you so....”


Kismiati terpana memandangi Supelo sejak mulai menyanyi ..... tanpa sadar air matanya menetes lagi. Kali ini terharu. Entah kenapa, perasaannya terharu banget menyaksikan keluguan dan ketulusan Supelo. Kilatan sinar mabil yang berpasan menerangi wajah Kismiati yang berlinang air mata. Suipelo langsung menghentikan nyanyinya.
“Kamu kenapa Kis..., “ seru Supelo khawatir.
Kismiati tersenyum seraya mengusap air matanya,
“Ga papa, “ katanya sambil tersenyum lepas. “Bagus, aku suka . Kamu baik bener...mau dong sekali lagi,....boleh ?”
“Oke, “ jawab Supelo bersemangat. Ia pun Supelo bersiap nyanyi lagi. “Kiss me quick...!”
Nyanyian Supelo terhenti lantaran mulutnya dibungkam bibir Kismiati.....
Pagi itu Supelo bangun agak siang. Usai mandi komplit – pakai shampo segala, Supelo duduk di sofa hotel. Tak lama Kismiati keluar membawa dua cangkir kopi hitam lalu ditaruh di meja. Ia duduk dekat Supelo. Verbalitas sudah usang, bahasa mata sebagai gantinya. Lalu keduanya tersenyum. Kismiati mengambil cangkir dan dengan matanya mempersilakan Supelo. Mereka pun bareng menyeruput kopi panas. Supelo mau memungut kripik tiba-tiba ia ingat sesuatu. Tadi malam atau pagi dini hari, Supelo bermimpi berjumpa Bram. Dalam mimpi itu, waktu ia keluar dari kamar mandi, sementara Kismiati tertidur pulas, Bram tahu-tahu nongol dan menyalami dirinya. Walau kaget, ia jabat tangan Bran, dan Bram menjabatnya dengan mengganggam keras seperti hendak mematahkan jemarinya. “ Selamat ya....semoga bahagia....” katanya. Supelo tersenyum dan tersipu malu sehingga menundukkan kepala. Tatkala ia mendongak, Bram sudah pergi. Bram raib begitu. Entah ngantuk berat atau lelah, Supelo masa bodoh saja. Ia cuma geleng-geleng lalu menjatuhkan diri di samping Kismiai. Langsung KO, pulas.
“Kenapa mas tersenyum s endiri? “ tegur Kismiati.
“Enggak, tiba-tiba aku teringat Bram,” ujar Supelo
“Papa ?”
“Oh, bukan masmu ya ? Kok masih muda, kayak Roy Martin...”
“Kapan mas jumpa dengan papa ?” selidik Kismiati
Supelo malu mengaku bahwa ia tadi bermimpi. “Enggak,...ga pernah bertemu , cuma...”
Dipotong Kismiati, “Kok tahu kalo papa seperti Roy Martin?”
“Kan Kismi pernah crita kemarin,.....”
“O, iya,” kata Kismiati.” Baru ingat. Ha...ha...ha”
“Sekarang di Holand ya ?” Supelo ingin tahu saja.
“Sudah wafat....”
“Apa ?” baru kali ini reaksi Supelo spontan vulgar. Kismiati agak heran sebenarnya mengapa Supelo terkejut tapi ia belum hafal kebiasaan Supelo yang jarang kaget atau kaget tersembunyi.
“Kapan ?”
“Bulan kemarin,” sahut Kismiati seraya menjelaskan bahwa h ari ini adalah hari ke39 -40 ! “Ya. ya ingat, karena tadi malam sebelum ke kafe ketemu Mas, tanteku --- kerabat papa – ini asli jawa, tilpun, nanya bisa hadir ga dalam acara 40 hari wafatnya papa. Ya kubilan g aku lagi sibuk.....”
Supelo termangu. Jangan-jangan tadi malem itu bukan mimpi.....
Kismiati menjawil Supelo, “Ayo mas kita cari SGPC lagi...atau gudeg .....”
Supelo masih melamun. “Ayuk,” ajak Kismiati sambil menarik lengan Supelo. Supelo berdiri. Tapi Kismiati tak segera melangkah.
“Elivis dulu dong Mas,” rengek Kismiati. Supelo menatap Kismiati sebentar. Ia masih terpengaruh ‘mimpi-tapi-nyata tadi malam.’
“Elvis dulu dong mas,” kata Kismiati dengan nada merajuk.
Supelo buka suara tenornya. “Hm, kiss me quick...., ,”
“Bukan-bukan suara mas,” protes Kismiati.
“Lho, lalu apa?” tanya Supelo ga dong.
Kismiati gemes, ga sabaran. Ia sergap Supelo dengan bibirnya....


....Kiss me quick and make my heart go crazy.....












Kamis, 28 Maret 2013

TERJEPIT FERRARI


Sugio Mulyo adalah pengusaha bakso asal Wonogiri yg sukses. Bisnisnya franchise. Awalnya ia buka warung bakso di pinggiran Jakarta Timur. Warungnya laku banget, pembelinya sampai antri. Lalu investor tertarik untuk mengembangkan cabang-cabang di penjuru DKI plus Depok. Maka Sugi pun bisa ongkang-2 kaki. Ia cukup memantau laporan saja dari rumahnya di sekitar waduk Gajah Mungkur . Putera tunggalnya , Tejo Sunaryo –panggilannya Rio, sekolahSMA di Jogya. Sesuai janji si bapak, si anak diberi kado istimewa saat ultahnya ke 17 : Ferrari warna kuning. Si anak memang ingin sekali punya mobil bagus banget dan si bapak akan memberinya jika usianya sudah cukup umur untuk dapat SIM. Tentu saja Ferrari sudah di rumahnya di Sukoharjo beberapa minggu sebelum hari ultah nya. Supaya si bocah belajar dulu sampai mahir menyetir Ferrari. Dasar anak jamam cyber begini, cepat sekali ia lihai bawa sedan mahal tanpa khawatir lecet. Ya karena ia sudah curi latihan , pinjam mobil temen-2nya di Yogya.
Dalam rangka ultah itulah Rio undang pacarnya, Jesica, dari Jakarta – ayah Rio punya rumah megah di Pondok Gede. Rio suruh sopirnya jemput sang pacar di Bandara Internasional Adi Sumarmo, Solo. Ia tak ikut, sengaja mau bikin kejutan. Ferrari. Usai acara suka cita di rumahnya di Sukoharjo, Rio ajak sang pacar coba Ferrari di jalan raya Sukoharjo – Wonogiri, sore itu.
Jalan raya ini lumayan bagus meski sebagian ruas ada yg rusak dikit. Hari biasa selalin sabtu minggu lalu-lintasnya sepi. Apalagi surup-surup, sore jelang magrib, dimana suasannya mulai remang-remang. “Cuma 120 lu braninya ?” komen sang pacar yang sama-sama remaja. “Berani 150 gua buka baju....”Tantangan begini, cemen bagi Rio. Latihan dulu lebih dari itu, ya di jalan yang sama. Spedometer capai 150, sang pacar buka baju. “Kalo 175 ?” ganti tantang Rio. Spontan Jesica tunjuk behanya. Ini jebakan Rio karena ia latihan rata-rata ya dengan kecepatan segitu. Bra dilepas, dan Rio pun demen melirik pacarnya, meski tanpa mengurangi kewaspadaannya.
Sekian menit kemudian ganti sang pacar nantang. 200, copot celana. Rio geleng kepala. Takut ya? Rio geleng kepala lagi disertai nunjuk bawah pusar sang pacar. “CD ? ,...ayo siapa takut...? ” kata sang pacar girang. Rio pun serius nyetir. Jalanan sepi tapi matahari mulai menutup kelopaknya, mungkin ngeri ato jengah , entahlah. Artinya, langit mulaji suram. Tatkala speedo nunjuk angka 175, AC mobil di matiin agar gasnya enteng. Akibatnya di dalam mobil agak panas. Jendela kaca dibuka oleh Jesica. Bener juga. Begitu spedo capai 200 tanpa ragu-ragu ia copot semuanya lalu bertepuk tangan. “Yes. Yes . yes ! Karena jendela terbuka dan angin kecang akibat mobil melaju pesat, semua pakaian Jesica – dari BH sampai CD – disedot angin, keluar berhamburan di jalan. Rio dari tadi bolak-balik tengok ke kiri untuk menyaksikan hasil ketrampilan ngebut -- sang pacar bugil !
Bagaimana pun Rio masih belia, jauh dari matang pengalaman menyetir. Ferrari melaju mulai memasuki area pemukiiman. Dua tiga rumah mulai terlihat di pinggir jalan. Jelang magrib begini tentu orang-orang keluar rumah untuk ke majid, dan itu berarti mereka tentu ada yg nyebrang jalan. Nah mendekati tikungan, Rio memang mengurangi kecepatan. Tapi jelas tak terpikirkan kalo setelah tikungan beberapa anak yang hendak ke masjid menyebrang. Jelas momen begini belum pernah dialami Tejo selama latihan. Ia gugup, mainkan persnelang dan gas serta setir. Beruntung tak terjadi tabrakan. Namun beberapa puluh meter kemudian, entaha kenapa terjadi selip dan sedan kuning terperosok keluar jalan. Rem sudah dioptimalkan Rio tapi baru behrnti karena menabrak pohon.
Jesica selamat, tidak cedera apapun tapi Rio terjepit stang kemudi. Kelihatannya sih ia tak luka serius cuma tak bisa keluar dari joknya. Rio benar-benar terjepit. Jesica beruaha menarik tapi tidak kuat. Rio nyuruhJesica minta bantuan. Tapi dia dalam keadaan bugil. Mau pakai baju Rio ga mungkin. Dadanya terganjal setir. Rio benar-benar kejepit. Lalu Rio minta Jesica ambil sepatu yang ia pakai. Kayaknya bisa diambil. Buat pakai sepatu? Tanya Jesica. Buat nutupin anumu itu lho...., seru Rio. Dengan telanjang bulat Jesica berkari cari pertolongan. Kok ya kebetulan ga ada rumah satupun. Tapi mata Jewsica menagkap bangunan kios kecil di tepi jalan. Rupanya kios bensin eceran. Tampak bapak tua – mungkin usianya hampir 70an—sedang memasukkan botol 1 liter isi bensin ke dalam lemari di dalam kios itu.
Ketika Jesica tiba dengan tergopoh-gopoh, pak tua tidak begitu reaktif. Ia meresponnya seperti menghadapi pembeli. “Wah udah tutup nduk....bensinya sudah saya masukin je....”
Pak, tolong pak...tolong pak.....pa...pa...pacar saya pak....., kata Jesica menghiba. Mungkin pak tua itu memang sudah rabun berat tapi pendengarannya masih tajam. Maka ia lebih serius memperhatikan tamunya. Ia ambil kacamata dan seketika ia kaget melihat perempuan muda dengan dua alas sepatu menutupi alat vitalnya. Ia perhatikan seksama.
“Tolonglah pak....tolonglah pacar saya,....ia terjepit pak. Gak bisa gerak sama sekali....” kata Jesica dgn nada menghiba.
“Terjepit ? “ kata pak tua setengah tidak percaya. “Iya pak, terjepit...ga bisa gerak sama sekali.....” kata Jesica. Pak tua memperhatikan bagian vital Jesica yang ditutupi sepasang sepatu dimana alasnya menghadap pak tua. Setelah dia mengamati sejenak, pak tua akhirnya berkata: “Waduh, nduk...pacarmu MASUK TERLALU DALAM. Bapak ga bakal kuat menariknya.......”






Minggu, 03 Maret 2013

KETELEN BUKAN MULUT ?


Namanya Gatot. Gara-gara hobinya mbayol, oleh rekan2 kerjanya ia pun dijuluki Gatholoco (Gatot lucu). Ia bekerja sbg technical sales representative pt Yaya Ouw. Gatho termasuk sukses. Kunci suksesnya, versi dia, entertain. Ia suka memberi entertain total. All out. Tampangnya sih bolehlah. Tak heran banyak cewek muda, tante-2 juga, suka menggodanya bila Gatho jalan-jalan ke mol. Suatu kecelakaan menyebabkan giginya rompal dan harus dipasang dng sederet gigi pasangan. Jd paket gigi bisa pasang copot, tanpa mengurangi ke gantengannya sama sekali. Semua biaya medis dan rehabilitasi gigi ditanggung perusahaan. Tapi itu dua tahun lalu dan selama ini ga ada masalah dengan giginya. Sampai suatu saat Gatho dipanggil personalia sehubungan dengan reimburse pengajuannya. Pasalnya pengajuan biaya perawatan gigi bukan berdasarkan kuitansi dari dokter gigi melainkan dari dokter spesialis kulit dan kelamin. “Kok bisa ? kau kena sipilis Tho? Terus terang saja , ga papa...jaman sekarang penyakit ini bisa diobati tuntas, ” tutur Dewi, mng personalia. Dengan agak tersipu Gatho mengaku bahwa bukan dirinya yang diperiksa dokter kelamin tapi pasangannya. “Maksutlu, pacar elu ? “ tukas Dewi sembari kembali meneliti kuitansi rumah sakit. Betul, ada tercantum nama cewek. “Eh, ga bisalah Tho, meski kau sendiri yg menulari, kan yg karyawan elu bukan ceweklu.” Akhirnya Gatho terus terang. Begini critanya bo, saya kan lagi have fun , ML, sama dia. Biasalah pemanasan dulu,....foreplay istilahnya,...entah gimana saya juga ga tahu, tahu-tahu paket gigi pasangan ini ketelen.... “Ketelen bagaimana? Masuk sampai perut gitu ? “ tanya Dewi personalia. Bukan lewat mulut Bo,......bukan mulut atas.... “ Aaah....oow gitu....” akhirnya si Dewi faham.
ML = making love


Kamis, 28 Februari 2013

PELOPOR KEMANUSIAAN BANJIR 2007


Banjir februari 2007 bukan musibah besar namun dinamika mental terlihat jelas. Egois, tidak mau tahu keadaan orang lain tanpa disadari mencuat. Meskipun ternyata masih banyak juga orang yang peduli dan berbaik hati. Mereka dari kaum mampu maupun kalangan sahaja, walau memang sekelumit. Mereka muncul menolong tanpa diduga sama sekali. Bantuan fisik maupun materi mereka berikan dengan tulus. Suka duka banjir februari 2007 berikut ini memaparkan dinamika tersebut. Ketika kita terdesak, tertekan, apalagi musti menyelamatkan anggota keluarga, kadang tanpa sadar kita menelanjangi diri kita. Kita tak mau tahu keadaan orang lain. Yang penting urusan kita didahulukan. Saat antri panjang misalnya, emosi naik dan saat itu biasanya terbersit untuk melakukan apa saja asal kita didahulukan . antri apa saja. Lebih-lebih saat menghadapi musibah kecil, apalagi besar, kita bisa gusar dan bahkan kalap.
Setelah menunggu berjam-jam hujan tak kunjung reda, akhirnya aku nekad pulang jam 1 dini hari. Lelahku setelah seharian memproduksi “obat kuat” untuk mesin seolah-olah sirna begitu ingat banjir 5 tahun sebelumnya di komplekku. Banjir Februari 2002 masih menimbulkan trauma. Walau banjir “cuma” seudel di dalam rumah, namun suasananya serasa berada ditengah lautan coklat selama 3 hari penuh. Itupun masih ada bonus . Banjir surut dan rumah sudah dibersihkan, eh air datang lagi. Menggenangi seluruh komplek setinggi pinggang selama sehari.
Aku sampai di komplek jam 2 dini hari. Jalan depan pasar Rawabebek sudah tergenang air meski baru semata kaki, Berarti di sekitar rumah lebih tinggi genangannya. Benar , genangan di jalan depan rumah sudahhampir sedengkul . Setelah mandi aku istirahat di kamar belakang karena kamar depan ditempati anak-anaku, Jon Seger (11th) dan Ali Gading (7th), ditemani buliknya, Yuyun. Ibunya anak-anak dan si ragil Danan (4 th) berada di rumah budenya di komplek yang sama tetapi di lokasi yang genangannya baru semata kaki tadi. Danan kurang sehat – agak demam.
Aku rebahan di lantai pakai kasur busa. Mungkin lantaran lelah setelah kerja sampai malam ditambah kehujanan, aku hanya tidur ayam. Suara gerimispun masih terdengar. Perasaan belun lama aku rebahan, tiba-tiba kakiku menyentuh air . Ha? Kaget , aku sontak berdiri dan menyaksikan air mengalir dari kamar mandi. Wah,....air mulai masuk. Bukan dari depan. Buru-2 kubangunkan Yuyun dan dua bocah. Kulihat saat itu pukul 03.30. sementara dua bocah kusuruh bertengger di sofa , kami mulai mengakati barang-2 yg tergeletak di lantai. Buku-2 pelajaran yang tersimpan di laci bawah lemari plastik kukeluarkan dan kutaruh di bak plastik yang sebelumnya sudah kuletakkan di kursi. Pengamanan barang-barang dari air tidak makan waktu lama. Air memang naik tapi lambat. Jam 8 pagi lebih ketinggian air di dalam rumah memang belum sedengkul tapi di jalanan bisa lebih dalam. Yuyun punya ide untuk mengajak Jon n Gading ke rumah mbaknya di “Atas” . Komplek Harapan Baru di bangun di atas urukan rawa (Rawa Bebek). Tak heran jika di samping rumah berdiri tebing lebih tinggi dari atap rumah BTN. Meksi sebagian tebing sudah di ratakan dengan dataran komplek. Di atas tebing samping rumah itu berdiri SDN IV dan SDN V (DKI). Rumah bu/pak liknya anak-anak berada di atas tebing itulah, atau tepatnya bekas bibir rawa.
Saat Jon nyemplung ke genangan di jalan, air sudah sepahanya. Praktis sejak jam 8.45 aku sendirian. Barang-barang “aman”, kenaikan air kayaknya sudah mentok. Aku sempat sarapan meski baru setengah piring perhatianku tetuju pada ketingian air. Sepertinya merayap naik agak cepat. Padahal masih gerimis. Aku turun dan coba menaikkan barang-barang yang mulai terancam air yang naik. Tetapi tempat yang lebih tinggi dari kursi sudah terisi. Meja 1 biro ada monitor komputer, dua salon speaker . PLN memutus aliran listrik. Wah bener nih, air bakal naik. Lt2 cuma teras yang beratap. Sisanya ruangan terbuka untuk jemuran. TV besar beserta kaset, VCD dan CD sudah lebih dulu di lt 2. TV 12“ masih nangkring di atas lemari kayu. Masih banyak yg “belum aman”. Aku mulai panik. Bingung mana yang aku dahulu kan untuk “di-naikkan” , mau dinaikkan ke mana lagi? Air semakin tinggi. Bak platik isi tumpukan buku mulai terancam sejalan dengan tenggelamnya sang kursi kayu. Kursi mulai oleng , dan ambruk kursi beserta bak isi tumpukan buku. Aku menyelamatan buku pelajaran SD satu dua, sisanya taruh dimana? Air main nggi. Tak seberapa lama meja 1 biro bergoyang. Monitor PC, dan benda lain pun ambruk kecebur bersamaan dengan terbaliknya meja. Ketinggian air mencapai pingganngku. Aku sedang bawa salon speaker untuk kunaikkan entah dimana saat melihat meja terballik. Monitor btenggaleam sedang salon satunya terapung. Putus asalah aku. Aku banting sekalian itu speaker berat tadi. Akhirnya aku dikondisikan untuk jadi peninonton ketika satu demi satu lemari-lemari ambruk – termasuk yg ada TV di atasnya. Persis adegan dalam film Titanic. Jam 10.30an ipar Nanto datang bersama Yuyun. Aku dan Nanto memindahkan kulkas ke sebelah kompor gas—space tertinggi yang tersisa. Yuyun sibuk mengambil baju-baju yang bersih untuk di bawa ke “Atas”. Nanto berusaha keras memindah barang-barang ke tempat yang lebih tinggi. Tapi aku sudah pesimis. Jam 11 air sudah setinggi dada. Akupun teriak “Kita tinggalkan sekarang, cepat. Di jalan lebih dalam lagi “ Kami pun segera bergerak menuju pintukeluar. Masing-masing membawa tas isi pakaian. Sampai di pintu, Yuyun hendak balik karena ada yang terlewat untuk dibawa. Kubilang, ‘ga keburu” tapi dia tetap masuk kamar meski tak lama kemudian keluar. Kami bergerak. Sampai di jalan. Ketinggian air sudah seleher. Terpaksa aku dan Nanto menjijing tinggi-tinggi tas isi pakaian. Mendekati warung, gelombang air mengenai hidung. Aku berjalan jinjit supaya air tak sampai mengenai mulut dan hidungku, kulihat Yuyun merangkul Nanto dari belakang karena dia harus berenang jika tak ingin tenggelam. Gerimis makin tipis.
Aku berdoa dalam hati, mohon kepada Gusti Allah agar kami selamat menyebrangi beberapa langkah ke depan. Tenagaku yang terkuras sejak sehari sebelumnya kini mulai berpengaruh. Aku lemas. Kaki terasa pegal dan jemari telapak kaki terasa hendak kram. Bagian terdalam sudah terlewati. Tapi tenaga habis, kedinginan dan kakiku terasa kaku. Aku hanya bisa berdoa, jangan sampai aku roboh. Aku khawatir kalau sampai roboh, sulit bagiku untuk bangkit lantaran kram semua. Rumah Nanto yang dituju meski tinggal 50 meter an dgn kondisi jalan datar tanpa genanagan,terasa jauh. Namun akutetap berjalan dengan sipaksa kalem, sesantai mungkin. Tidak buru-buru dan tiak ingin istirahat barang sejenak. Alhamdulillah sampai di rumah Nanto, kami selamat . Kecuali HP nokiaku. Mati dan rusak akibat lama terendam.
Kami berkumpul semua di rumah Nanto. Danan sudah tidak demam. Setelah mandi dan makan aku tak bisa tidur meski badan lelah. Rupanya Heni sempat naik becak ke rumah Nanto ketika banjir masih di bawah dengkul.Tapi lewat jam jam 8 pagi, becak tak berani jalan lantaran kedalamannya beresiko. Jadi mbakku dan suaminya serta ibuku masih di rumah mbak. Belum bisa dievakuasi. Putrinya yang ragil bisa keluar bersma Heni dan Danan. Demikian juga sulungnya, Nisa.
Siang itu Heni cari kontrakan. Tentu saja tidak gampang cari kontrakan, tapi dia jalan juga. Agak lama , akhirnya Heni ketemu kelompok warga RW tetangga dan diajak bareng coba jajagi apartemen yang sudah 80 %b jadi. Akhirnya kami boleh sewa apartemen yang notabene letaknya di atas “tebing” samping rumahku. Mbakyuku dapat apartemen di sebelahku persis. Apartemen ini memang didisain kecil –satu kamar, merangkap dapur dan kamar mandi kayaknya memang untuk keluarga belum punya anak kali , pasutri alias pasangan sejoli doang.